Headlines News :

Ads google

Adv google

Propellerads

PropellerAds
Home » , , » Lagi, September 2018 Ekspor dan Impor Anjlok, Sulsel Kembali Alami Defisit

Lagi, September 2018 Ekspor dan Impor Anjlok, Sulsel Kembali Alami Defisit

Written By Admin Iskandar on Selasa, 16 Oktober 2018 | 09.57.00

Potret pergerakan ekspor Sulsel
MAKASSAR - KOMANDOPLUS : Setelah beberapa bulan sebelumnya perkembangan ekspor dan impor Sulsel yang tercatat pernah mengalami penurunan dan berakibat neraca perdagangan mengalami devisit, maka pada bulan September 2018 kondisi itu kembali terjadi. Sehingga perlu ada upaya-upaya untuk memulihkannya.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Sulsel per 15 Oktober 2018 mencatat, nilai ekspor yang dikirim melalui pelabuhan Sulawesi Selatan (Sulsel) pada bulan September 2018 tercatat mencapai US$ 93,80 Juta. Angka ini Mengalami penurunan sebesar 5,78 persen bila dibandingkan nilai ekspor bulan Agustus 2018 yang mencapai US$ 99,55 Juta.

Sementara itu, capaian September 2018 tercatat mengalami peningkatan sebesar 15,82 persen dari kondisi bulan yang sama tahun sebelumnya yang mencapai US$ 80,98 Juta.

Dari lima komoditas utama yang diekspor, nikel menempati urutan pertama dengan jumlah 62,81 persen. Disusul komoditas biji bijian berminyak dan tanaman obat; kayu dan barang dari Kayu; lak, getah dan damar; serta ikan, udang serta hewan air tidak bertulang belakang lainnya dengan persentase masing-masing 12,30 persen, 4,16 persen, 4,11 persen dan 3,85 persen.

Sebagian besar ekspor tersebut ditujukan ke Jepang, Tiongkok, Amerika Serikat dan Australia dengan proporsi masing-masing 66,58 persen, 20,82 persen, 4,19 persen dan 1,82 persen.

Jenis komoditas ekspor terbesar Sulsel bulan September 2018
Nikel merupakan komoditas dengan nilai ekspor terbesar yakni sebesar US$ 58,91 juta (62,81 persen); disusul komoditas biji-bijian berminyak dan tanaman obat sebesar US$ 11,54 juta (12,30 persen); kayu dan barang dari kayu sebesar US$ 3,90 juta (4,16 persen); lak, getah dan damar sebesar US$ 3,85 Juta (4,11 persen); serta ikan, udang dan hewan air tidak bertulang belakang lainnya sebesar US$ 3,61 Juta (3,85 persen) dari total nilai ekspor Sulsel.

Bila dibandingkan dengan Agustus 2018 sebelumnya, maka komoditas nikel menurun 11,72 persen; biji-bijian berminyak dan tanaman obat meningkat 16,79 persen; kayu dan barang dari kayu meningkat 432,98 persen; lak, getah dan damar meningkat 205,59 persen serta ikan, udang dan hewan air tidak bertulang belakang lainnya meningkat 26,10 persen.

Potret pergerakan impor Sulsel
Sementara nilai Impor tercatat mencapai US$ 101,38 Juta. Namun angka ini mengalami penurunan 4,63 persen bila dibandingkan nilai impor bulan Agustus 2018 sebelumnya yang mencapai US$ 106,30 Juta. Tapi pada bulan yang sama tahun 2017 tercatat mengalami peningkatan sebesar 7,76 persen atau senilai US$ 94,08 Juta.

Lima komoditas utama yang diimpor pada bulan September 2018 yaitu bahan bakar mineral; gula dan kembang gula; gandum ganduman; ampas/sisa industry makanan; dan mesin-mesin/pesawat mekanik dengan distribusi persentase masing-masing sebesar 52,20 persen, 10,12 persen, 10,06 persen, 9,42 persen dan 6,58 persen.

Sebagian besar impor tersebut didatangkan dari Singapura, Australia, Tiongkok dan Ukraina dengan proporsi masing-masing 50,88 persen, 10,27 persen, 10,16 persen dan 10,06 persen.

Jenis komditas terbesar impor Sulsel pada bulan September 2018
Komoditas impor pada bulan September 2018 dengan nilai terbesar adalah bahan bakar mineral dengan nilai sebesar US$ 52,93 juta (52,20 persen); gula dan kembang gula dengan nilai sebesar US$ 10,26 juta (10,12 persen); gandum ganduman dengan nilai sebesar US$ 10,19 juta (10,06 persen); ampas/sisa industry makanan dengan nilai sebesar US$ 9,55 juta (9,42 persen); mesin-mesin/pesawat mekanik dengan nilai sebesar US$ 6,67 Juta (6,58 persen) dari total nilai impor Provinsi Sulsel.

Dibandingkan dengan Agustus 2018 sebelumnya, maka bahan bakar mineral mengalami peningkatan 43,35 persen; gula dan kembang gula menurun 42,92 persen; gandum-ganduman turun 19,61 persen; serta ampas/sisa industry makanan mengalami peningkatan sebesar 70,31 persen dan mesin-mesin/pesawat mekanik yang mengalami peningkatan sebesar 161,34 persen.

Negara asal impor Sulsel pada bulan September 2018 dengan nilai empat terbesar yaitu dari Singapura dengan nilai sebesar US$ 51,58 juta (50,88 persen); disusul Australia dengan nilai US$ 10,41 juta (10,27 persen); Tiongkok dengan nilai US$ 10,30 juta (10,16 persen) dan Ukraine dengan nilai US$ 10,19 Juta (10,06 persen) dari total nilai impor Sulsel.

Dibandingkan dengan bulan Agustus 2018 sebelumnya, nilai impor dari Singapura meningkat sebesar 26,08 persen; nilai impor dari Australia meningkat sebesar 6515,46 persen; dan nilai impor dari Tiongkok menurun sebesar 37,86 persen serta nilai impor Ukraine meningkat 160,49 persen.

Jika dibandingkan dengan bulan September 2017 tahun sebelumnya, maka nilai impor dari Singapura mengalami peningkatan 299,74 persen; nilai impor dari Australia meningkat sebesar 132,72 persen; nilai impor dari Tiongkok turun sebesar 37,86 persen; dan nilai impor dari Ukraine meningkat 94,70 persen.

Neraca perdagangan Sulsel pada September 2018
Karena besarnya nilai impor sebesar US$ 101,38 Juta dibandingkan dengan nilai ekspor sebesar US$ 93,80 Juta pada bulan September 2018, sehingga neraca perdagangan Sulsel tercatat mengalami defisit sebesar US$ 7,58 Juta. Begitu juga pada bulan yang sama tahun 2017 sebelumnya, mengalami defisit sebesar US$ 13,10 juta.

Kepala BPS Sulsel, Yos Rusdiansyah, Senin (15/10/2018), menjelaskan ihwal penurunan baik akspor maupun impor Sulsel pada bulan September 2018, bahwa itu disebabkan karena faktor permintaan yang menurun yang sifatnya musiman. Dan kemungkinan bulan Nopember dan Desember mendatang 2018 permintaan ekspor akan meningkat.

Neraca perdagangan Sulsel periode Januari - September 2018
"Secara komulatif tetap positif cukup besar sekitar 15 persen untuk ekspor dan 13 persen untuk impor. Artinya geliat ekonomi Sulsel cukup bagus dalam aktivitas ekonomi domestik di Sulsel untuk peningkatan produk barang atau jasa yang dihasilkan. Meskipun mengalami defisit, tetapi secara umum prospek masih cukup bagus," jelasnya.

"Seandainya nilai ekspor nikel kita keluarkan sebentar kemudian impor bahan bakar kita keluarkan, artinya ekspor dan impor kita bandingkan tanpa migas maka ternyata devisit kita di Sulsel cukup besar. Sehingga perlu upaya agar komoditas andalan Sulsel berupa kakao, ikan, udang, itu digalakkan supaya menurunkan devisit yang terjadi," kuncinya. (*)

Laporan/Editor: Iskandar.

____________________

Alamat Redaksi: Jl. Lanto Dg. Pasewang No. 14 Telp. (0411) 854127 - 854424 Hotline 085395591962 - 081342377788 - 085255426133 Makassar Sulsel. Pem Red/Pen Jab: Andi Iskandar. WA App. Android: 085395591962. Web: http://www.komandoplus.com/ Email: redaksikomandonews@gmail.com Wartawan media online komandoplus.com dalam menjalankan tugas dibekali kartu pers yang masih berlaku.
Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Design Editor by Iskandar
Copyright © 2014. Komando Plus - Media Cyber
_____________