Headlines News :

Ads google

Adv google

Home » , , , » Kisah Pilu Dua Wanita Tak Berdaya di Desa Puncel Pati

Kisah Pilu Dua Wanita Tak Berdaya di Desa Puncel Pati

Written By Admin Iskandar on Sabtu, 15 September 2018 | 01.42.00

Mbah Semi (88 tahun) dan putrinya Mbok Kasminah dan suasana
di dalam gubuknya.
PATI - KOMANDOPLUS : Dua orang wanita akhirnya menempati rumah gubuk di emperan setelah bertahun-tahun mengabdi sebagai pekerja rumah tangga (PRT) namun tak diberi upah selayaknya. Ke dua wanita itu adalah ibu dan anak yakni Mbah Semi (88 tahun) dan putrinya Mbok Kasminah, warga RT 5/RW I Desa Puncel Kecamatan Dukuhseti kabupaten Pati Jawa Tengah.

Kisah keterpurukan yang dialami ibu dan anak itu pun dituturkan ke duanya dengan ungkapan yang terbata. Hal itu berawal dari perjalanan hidupnya untuk mencari penghidupan yang lebih baik di tahun 1963, dimana pada tahun itu kehidupan yang serba susah, diperparah dengan terjadinya masa paceklik, serta situasi keamanan yang tidak menentu sehingga menegangkan ibu dan anak tersebut.

Karena kondisi itu, ibu dan anak tersebut dengan berjalan kaki meninggalkan wilayah Ngawen Blora menuju Desa Puncel Kecamatan Dukuhseti kabupaten Pati dengan menempuh perjalanan sekitar tujuh hari.

Setibanya di Desa Puncel Kecamatan Dukuhseti Pati tersebut, akhirnya mereka pun menetap di desa itu dengan harapan mendapatkan pekerjaan. Alhasil, harapan mereka tercapai setelah diterima bekerja sebagai pekerja rumah tangga (PRT) di rumah Sukorejo.

Kasminah berkisah, dalam perjalanan hidupnya sebagai PRT, ternyata harus berakhir dengan keadaan yang tidak menentu setelah Sukorejo, majikannya itu, meninggal dunia yang terjadi sekitar sepuluh tahun lalu.

Kondisi itu memaksa mereka untuk tetap melanjutkan bekerja sebagai PRT, namun harus hijrah ke Jakarta untuk bekerja di salah satu keluarga almarhum Sukorejo, mantan majikannya.

Di Jakarta, karena hanya dipekerjakan oleh keluarga armarhum Sukorejo selama lima tahun saja, maka akhirnya mereka harus kembali pulang ke Puncel karena tak memiliki tempat tinggal di sana.

Yang memiriskan, sebab sejak bekerja di rumah majikan barunya di Jakarta, hingga sekarang belum pernah menerima upah yang menjadi haknya, kecuali hanya apa yang dia minta bila sedang ada keperluan.

Sepulangnya dari Jakarta, mereka pun kembali ke rumah almarhum mantan majikannya yang sedang kosong tak berpenghuni. Namun malangnya, sebab meskipun kondisi rumah itu kosong, mereka tidak boleh menempatinya karena tak diizinkan oleh keluarga almarhum.

Padahal maksud dari ibu dan anak itu menempati rumah tersebut karena berharap ada keluarga almarhum mantan majikannya yang mau peduli dengan memberi imbalan selama mereka bekerja agar bisa membuat rumah kecil yang bisa digunakan sekedar untuk bernaung.

"Sebenarnya kami tidak ingin merepotkan orang lain. Tapi karena harapan itu tidak pernah bisa terwujud, maka kami hanya bisa mendompleng di emperan rumah milik Ibu Darmiati," tutur Kasminah sedih.

Kepedulian Darmiati sang pemilik rumah yang mengizinkan bagian emperannya disekat dengan dinding terpal, bagi ibu dan anak itu sudah merupakan berkah sebab mereka bisa menempatinya untuk sekedar berteduh.

Namun lantaran kondisinya yang sudah lanjut usia (lansia) membuatnya tak bisa bekerja lagi bekerja walau secara serabutan, meskipun keinginan untuk itu tetap ada terutama pada diri Mbok Kasminah. Sehingga untuk bisa sekadar memenuhi kebutuhan makan sehari-harinya terpaksa mereka menggantungkan hidupnya dari belas kasihan orang lain.

Darmiati sendiri sangat prihatin melihat kehidupan ke dua wanita itu. Bahkan pernah menawarinya untuk masuk rumah tapi mereka menolak.

"Sebenarnya sudah saya minta untuk tinggal di dalam rumah, tapi mereka memilih di emperan karena tidak ingin merepotkan," ungkapnya.

Kepala Desa (Kades) Puncel, Sutiyono, ketika dihubungi terkait ihwal tersebut membenarkan masalah itu. Dia pun tidak mengelak jika kedua warganya itu lebih banyak bergantung pada belas kasihan tetangga sekitar untuk bisa memenuhi kebutuhan makan sehari-hari.

Diperparah oleh kondisi Mbah Semi yang saat ini semakin memprihatinkan sebab tidak mampu berjalan akibat terjatuh sekitar dua bulan lalu.

Diajak untuk berobat pun mereka enggan, lagi-lagi karena alasan tidak ingin merepotkan orang lain.

"Kendati kami tidak mengetahui persis bagaimana permasalahannya, tapi mengingat mereka sudah lanjut usia, tentu benar-benar kami kasihan," kata Kades.

Kini kedua wanita yang tidak berdaya itu sangat berharap terutama kepada keluarga mantan majikan, almarhum Sukorejo, yang pernah mempekerjakannya untuk memberikan apa yang menjadi hak atas jerih payah mereka menjadi PRT selama lima tahun. (*)

Laporan: Valdy pendim pati.
Editor: Iskandar.
____________________

Alamat Redaksi: Jl. Lanto Dg. Pasewang No. 14 Telp. (0411) 854127 - 854424 Hotline 085395591962 - 081342377788 - 085255426133 Makassar Sulsel. Pem Red/Pen Jab: Andi Iskandar. WA App. Android: 085395591962. Web: http://www.komandoplus.com/ Email: redaksikomandonews@gmail.com Wartawan media online komandoplus.com dalam menjalankan tugas dibekali kartu pers yang masih berlaku.
Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Design Editor by Iskandar
Copyright © 2014. Komando Plus - Media Cyber
_____________