Headlines News :

Ads google

Adv google

Home » , , , » Bertambah, Korban Fasilitas Dana KUR Fiktif Desa Barambang

Bertambah, Korban Fasilitas Dana KUR Fiktif Desa Barambang

Written By Admin Iskandar on Jumat, 21 September 2018 | 23.11.00

Foto dokumentasi saat fasilitas KUR disosialisasikan pada Maret 2018
yang lalu di desa Barambang kecamatan Sinjai Borong kabupaten
Sinjai.
SINJAI - KOMANDOPLUS : Setelah diketahui adanya dana fasilitas Kredit Usaha Rakyat (KUR) melalui Bank Artha Graha atas nama Baharuddin yang dinyatakan telah cair namun dananya tidak sampai di tangan pemohon, kini terungkap bahwa seorang petani lainnya atas nama Basri juga mengalami hal yang sama, sehingga korban dana KUR "fiktif" sekarang bertambah.

Fasilitas kredit untuk petani yakni Kredit Usaha Rakyat(KUR) di kecamatan Sinjai Borong kabupaten Sinjai yang diduga fiktif itu sangat merugikan kalangan petani lantaran petani tak bisa lagi memohon kredit sejenis di perbankan sebab dinyatakan masih tersangkut utang kredit bahkan sudah dibebani dengan pembayaran angsuran cicilan plus bunga, sementara petani yang bersangkutan tidak pernah menerima dana kredit tersebut.

(Berita terkait: http://www.komandoplus.com/2018/09/misteri-dana-kur-desa-barambang.htm)

Dalam penelusuran wartawan komandoplus.com telah menemui sejumlah sumber yakni Kades Barambang, Bohari, Kades Biji Nangka, Andi Rauf, Sekdes Batu Bulerang, Sulaeman, Kepala Seksi Kesra dan Pembangunan Desa Barambang, Made, dua petani yakni Basri dan Baharuddin, serta sejumlah warga desa lainnya di desa Barambang, termasuk tenaga pendamping KUR Desa Barambang, Arif Suriadi.

Dari penelusuran tersebut diketahui bahwa seorang petani lainnya bernama Basri juga mengalami hal serupa dengan yang dialami Baharuddin. Bahwa saat dirinya juga hendak mengajukan permohonan kredit di BRI setempat, permohonannya ditolak sebab masih tercatat sebagai debitur KUR yang sementara berjalan. Padahal dirinya merasa tidak pernah menerima dana KUR yang dimaksudkan.

Dari Kades Barambang, Bohari, diperoleh keterangan bahwa awal mulanya fasilitas KUR di wilayah desanya pernah dilakukan sosialisasi yang ketika itu dilakukan di aula Kantor Desa Barambang, pada hari Sabtu (03/03/2018). Sosialisasi tersebut oleh SPV Amar Ma'ruf dari Bank Artha Graha didampingi Arif Suriadi.

Bohari menilai ada ketidak sesuaian informasi yang disampaikan saat sosialisasi dengan kenyataan lapangan. Bahwa saat sosialisasi, informasi yang disampaikan oleh SPV Amar Ma'ruf kepada masyarakat bahwa jangka waktu kredit KUR itu addalah selama enam bulan dengan jumlah kredit sesuai kebutuhan. Sedangkan yang diberlakukan kepada masyarakat adalah jangka waktu kredit selama tiga tahun dengan jumlah kredit Rp. 25 juta.

"Tidak sesuai dengan yang pernah disosiasaikan dengan realisasi di lapangan. Ini bukan kesalah-pahaman, karena dulu SPV Amar mengatakan per enam bulan, kenapa sekarang berubah berlakunya menjadi tiga tahun," ucap Bohari.

Bohari mengaku kesal lantaran dirinya menjadi sasaran bulan-bulanan warganya oleh terungkapnya KUR yang diduga fiktif ini.

Amar Ma'ruf (kiri), dan Arif Suriadi (kanan)
"Amar Ma'ruf bersama Arif Suriadi datang mengklarifikasi di desa Barambang kemarin Selasa (18/09/2018). Seharusnya bukan ke saya, tapi ke korban yang ada transaksi kreditnya di Bank Arta Graha. Saya cuma memfasilitasi wargaku. Sekarang saya menjadi bulan-bulanan di sini dikirannya saya ada main mata dengan pengurus KUR," ungkap Bohari kesal.

Diperoleh keterangan lain, bahwa bukan hanya warga desa Barambang yang pernah mendaftar perolehan fasilitas KUR melainkan warga desa lainnya yakni Desa Biji Nangka dan Desa Batubulerang.

Sekdes Batu Bulerang, Sulaeman, mengungkapkan bahwa ada puluhan hingga ratusan orang warga yang pernah bermohon fasilitas KUR, hanya saja belum diketahui sampai saat ini apakah ihwal itu bermasalah atau tidak sebab belum ada warga yang mengajukan permohonan ulang. Dan terungkapnya dana KUR yang diduga fiktif itu karena sudah warga yang bermohon kembali lalu pihak perbankan menyatakan bahwa warga tersebut sudah menerima pencairan dana kredit itu.

"Saya tidak tahu prosesnya sudah cair atau tidak. Yang jelas ada puluhan sampai ratusan orang dari dusun Bontoe dan Jeppara yang pernah mengurus keterangan usaha, karena mereka itu yang ada sawahnya," ungkap Sulaeman.

Baharuddin, korban dana KUR yang diduga Fiktif, dalam pengakuannya menceritakan, bahwa tenaga pendamping dana KUR, Arif Suriady, bersama temannya terakhir datang di rumahnya meminta tanda tangan dari Baharuddin dan isterinya.

"Ada saya bertanda tangan sama istriku, cuma saya tidak tau namanya apa yang saya tanda tangani. Kemudian saya difoto bersama sawahku. Sedangkan itu yang dia temani saya tidak tau namanya siapa," ungkap Baharuddin.

"Selama saya sudah tanda tangani, sambil menunggu pencairan namun tak kunjung cair. Tapi karena ada kebutuhan yang mendesak sehingga saya mengajukan permohonan kredit di BRI. Dan saya terkejut, karena pihak BRI menyatakan saya punya kredit sebanyak Rp. 25 juta di Bank Arta Graha Watanpone tertanggal 20 juni 2018, padahal saya tidak pernah menerima dana kreditnya," jelasnya Baharuddin.

"Itu bank Arta Graha saya tidak tau modelnya dan bentuknya kayak apa. Cuma Bank BRI saja yang saya tahu. Karena itu ji yang ada di Sinjai Borong. Kenapa saya punya kredit di bank Arta Graha," ucap Baharuddin heran.

"Sedangkan KUR yang diurus Arif Suriadi saya bermohon sesuai kebutuhan, yakni saat itu hanya Rp. 7 juta. Kenapa bisa saya punya kredit Rp. 25 juta. Yang cairkan siapa dan yang ambil itu dana siapa," tanya Baharuddin lugu.

Tenaga pendamping dana KUR, Arif Suriadi melalui pesan WhatApps (WA) menulis, "Saya pendamping KUR dulu di Barambang yang mendata... Tapi saya sudah berhenti sekitar bulan 6 (Juni 2018).... Anggota kelompok tani yang mau ambil KUR yang saya data dulu itu kurang lebih 50 org."

"Persoalan pencarian, SPV (Amar Ma'ruf maksudnya, red) yang tahu, karena saya berhenti bekerja di KUR sebelum pencairan. Kita konfirmasi sama Amar Ma'ruf karena dia SPV," lanjut Arif Suriadi.

Sementara SPV Bank Arta Graha, Amar Ma'ruf, mengatakan pencairan dana KUR itu secara bertahap, dan tidak serta merta dana KUR itu cair.

Kepala Seksi Kesra/Pembangunan desa Barambang, Made, mengungkapkan bahwa antusiasnya warga untuk bermohon perolehan fasilitas dana KUR ketika itu dikarenakan adanya iming-iming bahwa jika gagal penen maka dana tersebut hangus. Apalagi warga cuma terima beres.

"Tidak capek lagi mengurus, cuma terimah beres," pungkas Made.

Baik Made maupun warga desa Barambang berharap agar pihak aparat kepolisan setempat secepatnya menindak lanjuti persoalan ini sebelum terjadi sesuatu yang tidak diinginkan lalu muncul persoalan baru. (*)

Laporan: Sambar.
Editor: Iskandar.
____________________

Alamat Redaksi: Jl. Lanto Dg. Pasewang No. 14 Telp. (0411) 854127 - 854424 Hotline 085395591962 - 081342377788 - 085255426133 Makassar Sulsel. Pem Red/Pen Jab: Andi Iskandar. WA App. Android: 085395591962. Web: http://www.komandoplus.com/ Email: redaksikomandonews@gmail.com Wartawan media online komandoplus.com dalam menjalankan tugas dibekali kartu pers yang masih berlaku.
Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Design Editor by Iskandar
Copyright © 2014. Komando Plus - Media Cyber
_____________