Headlines News :

Ads google

Program Umrah 9 dan 13 Hari PT. Maharani Tours

Program Umrah 9 dan 13 Hari PT. Maharani Tours
Jl. Gn. Bawakaraeng No. 111E (Depan SPBU Terong) Telp. 0411-420600 WA 085395591962 Makassar

Propellerads

PropellerAds
Home » , » Bermaksud membantu, Eh .. Malah Jadi ‘Tumbal’

Bermaksud membantu, Eh .. Malah Jadi ‘Tumbal’

Written By komando plus on Jumat, 05 Oktober 2012 | 16.01.00

Potret Kinerja Polisi Polres Bantaeng

MAKASSAR - KOMANDO Plus :Sungguh malang nasib yang dialami lelaki Silalo, warga jalan Abdullah Daeng Siruwa Makassar, awalnya dia hanya bermaksud membantu mempertemukan dua orang untuk urusan “investasi ongkos naik haji (ONH)”, ternyata urusan itu berujung penipuan.


Celakanya, sang penipu melarikan diri setelah meraup uang puluhan juta rupiah yang ditarik dari tiga belas orang korban, sementara Silalo menjadi “tumbal” yang dipaksa menanggung resiko secara perdata dan pidana. Anehya, polisi tak memburu orang yang diduga kuat sebagai pelaku utama yang menghilang itu melainkan memaksakan Silalo sang perantara ditersangkakan.

Saat kasus ini ditangani Polres Bantaeng, penyidik tak mau mem-BAP-kan tersangka Silalo sebelum lawannya hadir dalam proses BAP itu. Ironisnya, pertanyaan penyidik kepada tersangka justru dijawab oleh lawan tersangka (pelapor) dan dimasukkan ke dalam BAP tersebut.

“Saya tidak pernah menjawab, sebab pertanyaan penyidik dijawab oleh pelapor,” kata Silalo ditirukan Rosmiati, anak mantu Silalo.

Begitu juga saat proses penangkapan hingga penahanan, keluarga tersangka mempertanyakan keabsahan prosedurnya. Pasalnya, keluarga tersangka mengaku hanya sekali menerima tembusan surat pemberitahuan dari polisi. Yakni pemberitahuan yang katanya panggilan sebagai saksi, ternyata langsung di tahan. Setelah tersangka meringkuk di rumah tahanan baru keluarganya diberikan susulan surat pemberitahuan lainnya. Hal itu nyata menyalahi hukum acara.

Kini kasus tersebut sementara bergulir di Pengadilan Negeri Bantaeng. Pihak LSM menilai kasus tersebut bermuatan rekayasa dan dipaksakan agar Silalo dijadikan tersangka. Hingga sekarang Silalo pensiunan PNS itu telah mendekam di Rutan Bantaeng selama sekitar lima bulan.

Kisahnya dituturkan Rosmiati, mantu Silalo, didampingi Tompo suaminya yang anak dari Silalo. Ditemui di rumahnya di jalan Abd. Dg. Siruwa Makassar, Jumat (5/10), menuturkan, ketika keluarga Silalo hendak menggelar perkawinan anaknya, Silalo bermaksud ke Bantaeng menemui keluarganya disana untuk memberitahukan rencana pelaksanaan hajat tersebut.

Tiba-tiba Mustamin tetangganya yang mengaku sebagai orangnya BPK namun tinggal kost di sebelah rumahnya, menawarkan Silalo numpang di mobilnya karena Mustamin mengaku hendak juga ke Bantaeng. Dalam percakapannya, Mustamin menawarkan ke Silalo program investasi ongkos naik haji (ONH) dengan syarat diawali dengan pembayaran uang pelicin.

Di Bantaeng, Silalo memperkenalkan Mustamin dengan H. Sahabuddin Dg. Middin. Dari perkenalan itu Mustamin menawarkan pula program investasi ONH itu kepada Sahabuddin. Saat menawarkan itu, tiba-tiba saja Mustamin menerima panggilan telepon lalu berbicara dengan seseorang melalui ponsel mengenai program tersebut. Hal itu membuat Sahabuddin percaya soal program investasi yang ditawarkan.

Selanjutnya, Sahabuddin merekrut calon jamaah sebanyak tiga belas orang. Calon jamaah tersebut masing-masing membayar sejumlah uang secara bertahap melalui Sahabuddin.

Setelah uang puluhan juta terkumpul, tiba-tiba Mustamin menghilang. Dan Silalo kena batunya sebab Sahabuddin pun segera melaporkan Silalo ke polisi sebagai penipu.

“Padahal kami juga ditipu dua belas juta oleh Mustamin sampai-sampai pelaksanaan pesta perkawinan tidak karu-karuan karena sebagian uang belanja pesta itu diberikan ke Mustamin. Dan Silalo bukan pengurus calon jamaah haji,” ungkap Rosmiati kesal.

Setelah laporan polisi itu, lanjut Rosmiati, pihak Sahabuddin menebar terror dan tekanan kepada keluarga Silalo agar keluarga Silalo menyerahkan sertifikat tanahnya sebagai tebusan atas kerugian sebesar enam puluh lima juta rupiah.

Beberapa hari kemudian, masih tutur Rosmiati, sejumlah petugas polisi dari Polres Bantaeng bersama Sahabuddin (pelapor), datang menjemput Silalo di rumahnya di jalan Abd. Dg. Siruwa Makassar itu untuk dibawa ke Polres Bantaeng.

“Di kantor polisi kami bertiga diharuskan menandatangani pernyataan mengakui telah meminjam uang kepada Sahabuddin enam puluh lima juta rupiah. Dan menyerahkan sertifikat tanah sebagai jaminan,” imbuh Tompo.

Setelah Silalo dibawa ke Polres Bantaeng, selanjutnya disuruh pulang dan tidak ditahan tapi ada syaratnya.

“Silalo dibiarkan pulang dan disuruh cari uang lima juta rupiah untuk penangguhan penahanan yang diajukan oleh Sahabuddin (pelapor),” kata Rosmiati heran.

Tak terpenuhi uang lima juta rupiah itu, maka berselang beberapa hari kemudian, para polisi itu bersama Sahabuddin kembali datang menjemput Silalo yang katanya hanya dipanggil menghadap sebagai saksi dan tidak diapa-apakan.

“Ternyata dia ditahan. Sejak saat itu Silalo sudah mulai ditahan pak,” ujar Rosmiati lagi sembari menambahkan, selain sertifikat tanahnya sudah diambil sebagai tebusan atas kerugian yang diakui diderita oleh Sahabuddin dan dibebankan pengembalian kepada Silalo, juga Silalo ditahan yang dirasakannya sebagai pukulan kedua bagi keluarganya.

Polisi kini sudah bisa berlepas tangan sebab kasus yang ditengarai sebagai kegiatan sindikat penipuan ini bukan lagi ditanagn polisi sebab sudah P21, melainkan telah ditangani Kejaksaan Negeri Bantaeng yang bahkan sementara bergulir di Pengadilan Negeri setempat. (isk) Bersambung ...
Share this article :
 
Design Editor by Iskandar
Copyright © 2014. Komando Plus - Media Cyber - Email: redaksikomandonews@gmail.com
_____________